Teori Berfikir Immanuel Kant ala
Prof Marsigit
“Serumit-rumitnya
pikiran pasti bisa diomongkan jika mampu” quotes by prof Marsigit
Pertama
kali melihat gambar di atas adalah ketika saya membuka salah satu postingan di
dalam blog Prof. Marsigit, beberapa kali membuka postingan yang sama namun
tetap bingung bagaimana memahaminya, dari mana memulai untuk membacanya. Namun,
setelah memperoleh penjelasan secara langsung oleh Prof. Marsigit, sedikit
banyaknya saya mulai memahami dan mengerti bagaimana untuk membacanya. Bagan
tersebut dibaca secara diagonal mulai dari sudut kiri bawah ke arah sudut kanan
atas. Berikut penjabaran untuk penjelasan gambar tersebut oleh Prof.
Marsigit.
Bumi
adalah kenyataan, dan kenyataan itu adalah fenomena tetapi fenomena tidak hanya
ada di kenyataan saja tetapi juga ada di presepsi, persepsi itu dihadirkan
melalui panca indera (penglihatan, pendengaran, peraba, kecapan, perasaan, dst)
dan menghadirkan persepsi membutuhkan perhatian. Perhatian itu ada derajat
skala rentangannya misalnya dari nol sampai seratus. Contohnya dalam konteks
perkuliahan, ketika seseorang memperhatikan dosen menjelaskan dan berdasarkan pengamatan
kita ia terlihat memperhatikan namun ia memperhatikan dengan seberapa baik itu
tidak bisa kita nilai sebab hanya dirinya saja yang benar-benar mengetahuinya karena
apa yang ada dalam pikiran seseorang adalah kebebasan bagi setiap orang. Bila
saat memperhatikan penjelasan dosen namun pikirannya memikirkan konteks di luar
pembicaraan saat itu maka itu diibaratkan seperti “melotot atau melihat tetapi
dengan kesadaran nol”.
Membayangkan
(Imagination) sama artinya dengan menghadirkan, sehingga bila kita menbayangkan
sesuatu maka otak kita akan menghadirkan sesuatu yang kita bayangkan tersebut.
Bila seseorang memiliki bayangan tentang waktu, bayangan immanuel kant,
bayangan konsep maka itulah yang disebut dengan memiliki persepsi
(perception). Persepsi memiliki dampak
dari fenomena yang dilihat, namun keterbatasan manusia adalah mereka tidak
mampu melihat banyak hal dan itulah yang membatasi persepsi yang dimiliki
seseorang. Persepsi seseorang dapat ditangkap oleh orang lain lagi melalui
indera mereka dan proses tersebut disebut dengan apersepsi. Representasi adalah
gambar dan ide-ide dan yang ada di dalam pikiran seseorang adalah berupa gambar.
Gambar ada bermacam-macam: simbolis, kenyataan, rumus-rumus,dll.
Apersepsi
berarti persepi satu membantu persepsi berikutnya, misal: untuk memahami
kerucut maka harus memahami tabung terlebih dahulu maka tabung sebagai
apersepsi pemahaman kerucut. Logika bersifat sintetik, analitik, apriori. Pada
gambar tersebut, yang di atas adalah aturan dan yang di bawah adalah
bayangannya, kumpulan dari banyak persepsi yaitu persepsi, persepsi, dan
persepsi maka akan menghasilkan sensasi. Pengalaman bersifat kontingen,
bersifat apostriori, bersifat sintetik. Maka, Immanuel kant yang
mendamaikannya, Ia mengatakan bahwa sebenar-benarnya ilmu adalah sintetik di
bawah apriori di atas maka sintetik apriori. Kemudian, setelah memperoleh
konsep maka pengetahuan-pengetahuan dan persepsi-persepsi menghasilkan dua
macam yaitu sensasi dan pengetahuan kemudian lahirlah konsep. Unsur-unsur
konsep yang kita miliki menurut filsafat itu bisa berupa konsep murni dan bisa
berupa konsep empiris. Pengetahuan yang kita miliki akan menghasilkan konsep
dan intuisi. Konsep adalah ide atau gagasan yang ada dalam pikiran kita tapi
juga bisa diperoleh melalui intuisi, intuisi juga merupakan konsep tapi melalui
sebuah pengalaman. Dengan demikian, diperoleh konsep murni (yaitu bila belum
terkontaminasi oleh pengalaman) dan konsep pengalaman (konsep empiris).
Interaksi antara konsep murni dan pengalaman mempengaruhi
dua macam yaitu ide (gagasan) dan notion (produk dari gagasan), adanya ide dan
notion menghadirkan sebuah kesimpulan. Selain itu, di dalam konsep ada
judgement, dalam filsafat judgement yaitu mengambil keputusan dan mengambil
keputusan merupakan tingkat berfikir yang paling tinggi derajatnya. Setiap saat
seseorang perlu untuk mengambil keputusan karena segala sesuatu memerlukan
keputusan, dalam hal ini prof menegaskan bahwa “ sebaik-baiknya seseorang itu
adalah yang berani mengambil keputusan, tidak peduli itu keputusan yang baik
maupun keputusan yang buruk” sebab hidup adalah tentang bagaimana seseorang
memutuskan bagaimana untuk menjalani hidup.
Intuisi
adalah ilmu, dan ilmu harus bisa memetakan, bila tidak bisa memetakan maka
berarti itu bukanlah suatu ilmu. Komponen intuisi itu ada dua belas yaitu
terdiri dari 4 komponen utama dengan masing-masing komponen tersebut memiliki
tiga komponen lagi di dalamnya. Keempat bagian tersebut yaitu: Quality (terdiri
dari: universal, parsial, singular), Kualitatif (affirmatif, negative,
infinitive), Relation (category, hypotetical, disjunctive), dan Modality (problem,
assertive, apodictic). Lebih kurang seperti itulah penjelasan sederhana tentang gambar tersebut, namun mungkin belum mendeskripsikan gambar tersebut secara lebih utuh dan menyeluruh.
Gambar
di atas adalah original karya Prof. Marsigit. Gambar tersebut berdasarkan hasil
olah pikirnya terhadap pengetahuan dan pengalaman yang beliau miliki. Maka, yang mampu menjelaskan dengan baik dan luwes hanyalah beliau sendiri.

Komentar
Posting Komentar