Langsung ke konten utama

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Pertemuan Kesembilan & Kesepuluh oleh Andi Gusmaulia Eka Putri


Teori Berfikir Immanuel Kant ala Prof Marsigit      

“Serumit-rumitnya pikiran pasti bisa diomongkan jika mampu” quotes by prof Marsigit

Pertama kali melihat gambar di atas adalah ketika saya membuka salah satu postingan di dalam blog Prof. Marsigit, beberapa kali membuka postingan yang sama namun tetap bingung bagaimana memahaminya, dari mana memulai untuk membacanya. Namun, setelah memperoleh penjelasan secara langsung oleh Prof. Marsigit, sedikit banyaknya saya mulai memahami dan mengerti bagaimana untuk membacanya. Bagan tersebut dibaca secara diagonal mulai dari sudut kiri bawah ke arah sudut kanan atas. Berikut penjabaran untuk penjelasan gambar tersebut oleh Prof. Marsigit. 
Bumi adalah kenyataan, dan kenyataan itu adalah fenomena tetapi fenomena tidak hanya ada di kenyataan saja tetapi juga ada di presepsi, persepsi itu dihadirkan melalui panca indera (penglihatan, pendengaran, peraba, kecapan, perasaan, dst) dan menghadirkan persepsi membutuhkan perhatian. Perhatian itu ada derajat skala rentangannya misalnya dari nol sampai seratus. Contohnya dalam konteks perkuliahan, ketika seseorang memperhatikan dosen menjelaskan dan berdasarkan pengamatan kita ia terlihat memperhatikan namun ia memperhatikan dengan seberapa baik itu tidak bisa kita nilai sebab hanya dirinya saja yang benar-benar mengetahuinya karena apa yang ada dalam pikiran seseorang adalah kebebasan bagi setiap orang. Bila saat memperhatikan penjelasan dosen namun pikirannya memikirkan konteks di luar pembicaraan saat itu maka itu diibaratkan seperti “melotot atau melihat tetapi dengan kesadaran nol”.
Membayangkan (Imagination) sama artinya dengan menghadirkan, sehingga bila kita menbayangkan sesuatu maka otak kita akan menghadirkan sesuatu yang kita bayangkan tersebut. Bila seseorang memiliki bayangan tentang waktu, bayangan immanuel kant, bayangan konsep maka itulah yang disebut dengan memiliki persepsi (perception).  Persepsi memiliki dampak dari fenomena yang dilihat, namun keterbatasan manusia adalah mereka tidak mampu melihat banyak hal dan itulah yang membatasi persepsi yang dimiliki seseorang. Persepsi seseorang dapat ditangkap oleh orang lain lagi melalui indera mereka dan proses tersebut disebut dengan apersepsi. Representasi adalah gambar dan ide-ide dan yang ada di dalam pikiran seseorang adalah berupa gambar. Gambar ada bermacam-macam: simbolis, kenyataan, rumus-rumus,dll.
Apersepsi berarti persepi satu membantu persepsi berikutnya, misal: untuk memahami kerucut maka harus memahami tabung terlebih dahulu maka tabung sebagai apersepsi pemahaman kerucut. Logika bersifat sintetik, analitik, apriori. Pada gambar tersebut, yang di atas adalah aturan dan yang di bawah adalah bayangannya, kumpulan dari banyak persepsi yaitu persepsi, persepsi, dan persepsi maka akan menghasilkan sensasi. Pengalaman bersifat kontingen, bersifat apostriori, bersifat sintetik. Maka, Immanuel kant yang mendamaikannya, Ia mengatakan bahwa sebenar-benarnya ilmu adalah sintetik di bawah apriori di atas maka sintetik apriori. Kemudian, setelah memperoleh konsep maka pengetahuan-pengetahuan dan persepsi-persepsi menghasilkan dua macam yaitu sensasi dan pengetahuan kemudian lahirlah konsep. Unsur-unsur konsep yang kita miliki menurut filsafat itu bisa berupa konsep murni dan bisa berupa konsep empiris. Pengetahuan yang kita miliki akan menghasilkan konsep dan intuisi. Konsep adalah ide atau gagasan yang ada dalam pikiran kita tapi juga bisa diperoleh melalui intuisi, intuisi juga merupakan konsep tapi melalui sebuah pengalaman. Dengan demikian, diperoleh konsep murni (yaitu bila belum terkontaminasi oleh pengalaman) dan konsep pengalaman (konsep empiris).
 Interaksi antara konsep murni dan pengalaman mempengaruhi dua macam yaitu ide (gagasan) dan notion (produk dari gagasan), adanya ide dan notion menghadirkan sebuah kesimpulan. Selain itu, di dalam konsep ada judgement, dalam filsafat judgement yaitu mengambil keputusan dan mengambil keputusan merupakan tingkat berfikir yang paling tinggi derajatnya. Setiap saat seseorang perlu untuk mengambil keputusan karena segala sesuatu memerlukan keputusan, dalam hal ini prof menegaskan bahwa “ sebaik-baiknya seseorang itu adalah yang berani mengambil keputusan, tidak peduli itu keputusan yang baik maupun keputusan yang buruk” sebab hidup adalah tentang bagaimana seseorang memutuskan bagaimana untuk menjalani hidup.
Intuisi adalah ilmu, dan ilmu harus bisa memetakan, bila tidak bisa memetakan maka berarti itu bukanlah suatu ilmu. Komponen intuisi itu ada dua belas yaitu terdiri dari 4 komponen utama dengan masing-masing komponen tersebut memiliki tiga komponen lagi di dalamnya. Keempat bagian tersebut yaitu: Quality (terdiri dari: universal, parsial, singular), Kualitatif (affirmatif, negative, infinitive), Relation (category, hypotetical, disjunctive), dan Modality (problem, assertive, apodictic). Lebih kurang seperti itulah penjelasan sederhana tentang gambar tersebut, namun mungkin belum mendeskripsikan gambar tersebut secara lebih utuh dan menyeluruh.
Gambar di atas adalah original karya Prof. Marsigit. Gambar tersebut berdasarkan hasil olah pikirnya terhadap pengetahuan dan pengalaman yang beliau miliki. Maka, yang mampu menjelaskan dengan baik dan luwes hanyalah beliau sendiri.



Komentar