![]() |
Jumat
sore ba’da magrib bulan Oktober lalu pada saya bersama teman kelas pergi
bersama-sama untuk merealisasikan rencana kami untuk menyaksikan pertunjukan
wayang di pendhapa muesum sonobudoyo Yogyakarta yang akan berlangsung selama 2
jam yaitu mulai jam 20:00 – 10:00 WIB. Pertunjukan wayang kulit yang akan kami
saksikan tersebut ternyata terdiri dari 8 episode berkelanjutan dengan judul
berbeda-beda (1st episode: The Abduction of Shinta, 2nd episode: Hanoman’s
Mission, 3rd episode: Rama’s Dam, 4th episode: Anggada’s Mission, 5th episode:
The Death of Prahasta, 6th episode: Trigangga Looking for His Father, 7th
episode : The Death of Kumbakarna, dan 8th episode: The Death of Rahwana),
kemudian satu kali pertunjukan akan menayangkan satu episode yang
masing-masingnya terdiri dari 2 scene
dan pertunjukan tersebut akan berlangsung selama dua jam, setidaknya begitu
informasi yang saya dapatkan melalui booklet yang terima dari petugas museum
saat membeli tiket masuk.
Pada
waktu itu pertunjukan wayang yang kami saksikan adalah 8th
episode yaitu tentang The Death of
Rahwana yang merupakan episode terakhir dari semua episode yang tersedia.
Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya secara pribadi untuk menyaksikan
pertunjukan wayang untuk pertama kali dan ditambah lagi dengan kenyataan bahwa
saya menyaksikan pertunjukan wayang kulit tersebut secara live membuat saya
merasa exited dan bersyukur karena
diberikan tugas oleh pak prof untuk menyaksikan pertunjukan wayang. Sebuah
kesempatan baik yang perlu menjadi pelajaran bahwa ada banyak budaya indonesia
yang perlu terus dilestarikan agar tidak ditinggalkan ataupun terlupakan, salah
satunya seperti pertunjukan wayang kulit ini.
The Death of Rahwana singkat
cerita dimulai di kerajaan Alengka, Rahwana kaget karena mengetahui kematian
saudaranya, Kumbakarna. Melihat hal ini, Indrajit (putra Rahwana) menghiburnya dengan
mengatakan kepada Rahwana bahwa dia dan kedua saudaranya, Tisirah dan Trinita,
akan membalas dendam pada Rama (yang merupakan penyebab kematian Kumbakarna).
Begitu Indrajit sampai di medan perang, Laksmana menghadapinya. Dalam
pertarungan antara Laksmana dan Indrajit,
Laksamana berhasil membunuh Indrajit dan memotong kepalanya. Sementara di sisi
lainnya, Rahwana bertarung melawan Rama. Meski memiliki kekuatan yang besar, Rahwana tidak bisa mengalahkan
Rama, ia dibunuh oleh Rama, Rama memenggalnya dengan Gwawijaya yang merupakan
senjata mematikan miliknya (Rahwana). Dengan kematian Rahwana, dunia dibebaskan
dari kekuatan jahat.
Sepanjang
menyaksikan pertunjukan wayang tersebut, terus terang tidak sepenuhnya bisa saya
pahami dikarenakan keterbatasan bahasa yang saya miliki, namun saya menikmati
alur ceritanya dan cukup terbantu dengan adanya booklet dan teman yang bisa
saya tanyai tentang seputar kisah yang berlangsung dan juga tentang karakter-karakter
wayang yang muncul. Nilai etik dalam perwayangan ini dapat dilihat melalui
karakter wayang dalam alur ceritanya, pesan moral yang diperoleh yaitu, bahwa perbuatan
yang buruk tidak akan mendatangkan hasil yang baik seperti halnya dengan balas
dendam yang dilakukan oleh Indrajit serta kedua saudaranya dan Rahwana kepada
Rama. Sedangkan, nilai estetika dalam perwayangan ini dapat dilihat dari banyak
segi seperti misalnya ada banyak karakter wayang dengan masing-masing tampilan
khas mereka, tatanan panggung dengan berbagai alat musik, keterampilan
masing-masing orang yang terlibat dalam menjalankan perannya terutama dalangnya
yang begitu luwes dan terampil dalam menyelaraskan antara gerakan wayang dan
musik sehingga apa yang diperlihatkan menjadi begitu indah dan mengesankan.
Berikut
secuil dokumentasi yang sempat saya abadikan waktu itu:
![]() |
| Tampak samping panggung 30 menit sebelum pertunjukan dimulai |
| Cumplikan pertunjukan wayang yang disaksikan dari layar di balik panggung |
| Cuplikan pertunjukan wayang yang disaksikan dari sisi depan panggung |


Komentar
Posting Komentar