Langsung ke konten utama

Refleksi Perkuliahan : Edisi Menyaksikan Pertunjukkan Wayang Kulit (24 /11/2017)


Jumat sore ba’da magrib bulan Oktober lalu pada saya bersama teman kelas pergi bersama-sama untuk merealisasikan rencana kami untuk menyaksikan pertunjukan wayang di pendhapa muesum sonobudoyo Yogyakarta yang akan berlangsung selama 2 jam yaitu mulai jam 20:00 – 10:00 WIB. Pertunjukan wayang kulit yang akan kami saksikan tersebut ternyata terdiri dari 8 episode berkelanjutan dengan judul berbeda-beda (1st episode: The Abduction of Shinta, 2nd episode: Hanoman’s Mission, 3rd episode: Rama’s Dam, 4th episode: Anggada’s Mission, 5th episode: The Death of Prahasta, 6th episode: Trigangga Looking for His Father, 7th episode : The Death of Kumbakarna, dan 8th episode: The Death of Rahwana), kemudian satu kali pertunjukan akan menayangkan satu episode yang masing-masingnya terdiri dari 2 scene dan pertunjukan tersebut akan berlangsung selama dua jam, setidaknya begitu informasi yang saya dapatkan melalui booklet yang terima dari petugas museum saat membeli tiket masuk.
Pada waktu itu pertunjukan wayang yang kami saksikan adalah  8th episode yaitu tentang The Death of Rahwana yang merupakan episode terakhir dari semua episode yang tersedia. Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya secara pribadi untuk menyaksikan pertunjukan wayang untuk pertama kali dan ditambah lagi dengan kenyataan bahwa saya menyaksikan pertunjukan wayang kulit tersebut secara live membuat saya merasa exited dan bersyukur karena diberikan tugas oleh pak prof untuk menyaksikan pertunjukan wayang. Sebuah kesempatan baik yang perlu menjadi pelajaran bahwa ada banyak budaya indonesia yang perlu terus dilestarikan agar tidak ditinggalkan ataupun terlupakan, salah satunya seperti pertunjukan wayang kulit ini.
The Death of Rahwana singkat cerita dimulai di kerajaan Alengka, Rahwana kaget karena mengetahui kematian saudaranya, Kumbakarna. Melihat hal ini, Indrajit (putra Rahwana) menghiburnya dengan mengatakan kepada Rahwana bahwa dia dan kedua saudaranya, Tisirah dan Trinita, akan membalas dendam pada Rama (yang merupakan penyebab kematian Kumbakarna). Begitu Indrajit sampai di medan perang, Laksmana menghadapinya. Dalam pertarungan  antara Laksmana dan Indrajit, Laksamana berhasil membunuh Indrajit dan memotong kepalanya. Sementara di sisi lainnya, Rahwana bertarung melawan Rama.  Meski memiliki kekuatan  yang besar, Rahwana tidak bisa mengalahkan Rama, ia dibunuh oleh Rama, Rama memenggalnya dengan Gwawijaya yang merupakan senjata mematikan miliknya (Rahwana). Dengan kematian Rahwana, dunia dibebaskan dari kekuatan jahat.
Sepanjang menyaksikan pertunjukan wayang tersebut, terus terang tidak sepenuhnya bisa saya pahami dikarenakan keterbatasan bahasa yang saya miliki, namun saya menikmati alur ceritanya dan cukup terbantu dengan adanya booklet dan teman yang bisa saya tanyai tentang seputar kisah yang berlangsung dan juga tentang karakter-karakter wayang yang muncul. Nilai etik dalam perwayangan ini dapat dilihat melalui karakter wayang dalam alur ceritanya, pesan moral yang diperoleh yaitu, bahwa perbuatan yang buruk tidak akan mendatangkan hasil yang baik seperti halnya dengan balas dendam yang dilakukan oleh Indrajit serta kedua saudaranya dan Rahwana kepada Rama. Sedangkan, nilai estetika dalam perwayangan ini dapat dilihat dari banyak segi seperti misalnya ada banyak karakter wayang dengan masing-masing tampilan khas mereka, tatanan panggung dengan berbagai alat musik, keterampilan masing-masing orang yang terlibat dalam menjalankan perannya terutama dalangnya yang begitu luwes dan terampil dalam menyelaraskan antara gerakan wayang dan musik sehingga apa yang diperlihatkan menjadi begitu indah dan mengesankan.
Berikut secuil dokumentasi yang sempat saya abadikan waktu itu:

Tampak samping panggung 30 menit sebelum pertunjukan dimulai

Cumplikan pertunjukan wayang yang disaksikan dari layar di balik panggung

Cuplikan pertunjukan wayang yang disaksikan dari sisi depan panggung

Komentar