Langsung ke konten utama

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Pertemuan Keempat 10/10/2017 oleh Andi Gusmaulia Eka Putri


Narasi Besar Dunia
Pada pertemuan keempat ini pembelajaran dilaksanakan menggunakan metode berbeda dari tiga pertemuan sebelumnya yaitu penyampaian informasi dengan media papan tulis yang dimanfaatkan oleh Prof. Marsigit untuk menggambarkan ilustrasi perkembangan filsafat dari awal zaman hingga saat ini seperti apa (timeline). Di akhir, diilustrasikan dengan gambar ikan di laut yang menggambarkan kehidupan kita saat ini, diibaratkan seperti ikan-ikan di laut (orang berfilsafat) yang sedang mencari air yang jernih dari aliran air dari awal zaman hingga akhir zaman. Aliran air itu diibaratkan dengan ilmu pengetahuan (pengetahuan filsafat), saat ini banyak ikan yang mengalami “stress” diperlihatkan dengan ikan yang mecoba untuk terbang atau melompat di atas permukaan air, ini merupakan perumpamaan dari masalah yang kerap terjadi saat ini, yaitu banyak sekali orang yang tertipu oleh berita hoaks dikarenakan tidak mampu memilah milih informasi yang mengakibatkan krisisnya kepercayaan seseorang terhadap suatu sumber informasi. Pada zaman sekarang itu filsafat kita adalah filsafat bahasa atau disebut juga dengan filsafat analitik. Filsafat dirasa agak sulit sebab istilah yang digunakan saat ini memiliki kesamaan dengan zaman dulu seperti analitik, sintesis, tesis yang arti atau maksudnya agak berbeda misalnya jugdement dimana jugdement itu istilahnya Imanuel Kant 2,5 abad yang lalu beda dengan istilah jugdement yang digunakan sekarang. Sederhananya, sama halnya dengan kita 30 tahun yang lalu dengan sekarang, 30 tahun yang lalu bekas lurah, namun saat ini tidak lagi disebut bekas lurah namun mantan lurah. Perkembangan dulu dan sekarang berbeda. Jadi sekarang itu sebenar-benarnya hidup adalah bahasa karena filsafat yang digunakan adalah filsafat bahasa.
Pada awal mulanya, filsafat terbagi menjadi dua dunia yaitu dunia langit dan dunia nyata, di langit yang berhubungan dengan kuasa tuhan dan di dunia nyata yang berhubungan dengan alam. Filsafat itu cair antara yang di jalankan, di yakini dan di alami, namun dalam perjalanannya terkanalisasi sehingga terbagi/terpecah menjadi macam-macam aliran (pemicu intoleransi). Satu ada di pikiran namanya monoisme, dan yang banyak namanya pluralisme. Zaman materialisme, materialisme berseberangan dengan idealisme. Materialisme yaitu tidak mengakui adanya tuhan atau etensitas nonmaterial lain yang biasa kita disebut dengan komunis, di Indonesia yaitu PKI. Nilai benar dalam filsafat yaitu masing-masing menjadi center, baik itu di langit maupun di bumi, benarnya satu atau benarnya banyak di materialisme. Prof. Marsigit menegaskan bahwa filsafat itu bersifat adil dan cair sebab yang ada di dalam pikiran kita karena dalam filsafat itu hanya ada dua perkara, pertama yaitu bagaimana menyampaikan/menjelaskan yang ada di pikiran kita ke orang lain, kedua yaitu bagaimana memahami yang ada di luar pikiran. Namun, sepanjang sejarah awal-akhir zaman, ternyata tiada satupun orang yang berhasil menggapainya, contohnya Socrates yang berpendapat bahwa sebenar-benarnya diriku adalah tidak mengerti apapun.
Konsep idealisme ditingkat atas dan di bawah itu berbeda, ke atas idealis bersifat identitas A=A sedangkan ke bawah itu nyata sifatnya kontradiksi AA, AA maksudnya diriku tidak mampu menunjuk diriku apalagi orang lain sebab sebelum aku selesai menunjuk aku sudah berganti dari tadi menjadi nanti, alasannya yaitu karena filsafat terikat ruang dan waktu dalam kenyataan tetapi dalam idealnya zonden (tiada) ruang dan waktu, maka tuhan tidak terikat ruang dan waktu. 2=2 bersifat kontradiksi sebab dua di kiri belum tentu sama dengan dua yang di kanan, perbedaan yang dimaksud disini bisa saja berbeda diukuran besar-kecilnya penulisan huruf dua, sedangkan dua sama dengan dua hanya ada di dalam pikiran itulah sebabnya mengapa matematika itu abstrak, namun pada tingkat ke bawah matematika haruslah konkret, siswa sekolah dasar itu dunia nyata jadi belajar matematika siswa sekolah dasar itu harus konkret, dari idealis menuju absolutisme. Ke bawah yaitu matematika yang real untuk anak-anak filsafatnya realisme sedangkan ke atas yaitu matematika yang abstrak filsafatnya adalah idealisme dan absolutisme.
Absolutisme atau wajib dari tuhan itu sifatnya absolut, tapi dalam konteks lain itu merupakan wajib yang relatif, kenyataan dalam filsafat (realisme). Dalam filsafat ada Platonisme (ke atas/ idealisme) dan aristolelianisme (ke bawah/realisme). Sebenar-benar ilmu menurut Plato adalah pikiran (abstrak). Menurut Aristotel sebenar-benar ilmu adalah kenyataan (aktivitas). Ilmu menurut Plato ini untuk orang dewasa ke atas sedangkan ilmu menurut Aristotel untuk anak kecil ke bawah, walaupun orang dewasa juga sering mengalami kenyataan.
          Dalam pikiran terdapat logika, logika itu bersifat analitik sedangkan kenyataan bersifat sintetik, menurut pandang orang matematika yang paling penting itu logis, mulai dari definisi, aksioma, teorema satu sampai teorema seribu, disinilah matematika murni itu berkutat, bisa dibayangkan jika sebagai guru kita mengajarkan matematika seperti ini kepada anak-anak, bisa dibayangkan pula anak-anak tersebut akan hancur dari sisi intuisinya (ruang dan waktu). Intuisi dalam filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada, yang paling sederhana adalah intuisi ruang dan waktu. Pengetahuan intuitif itu perlu untuk dimiliki oleh seseorang, ciri intuisi itu, kapan datangnya itu tidak mengerti lupa dari mana memperolehnya namun yang penting itu paham/ngerti. Bagi anak kecil belajar konsep bilangan satu tidaklah melalui definisi, konsep bilangan satu intuitif bagi anak kecil, bagi orang dewasa tidak masalah menggunakan definisi atau sesuatu yang lebih kompleks. Logika analitik, analitik tidak perlu sesuai kenyataannya, matematika murni tidak perlu kenyataan yang penting logis saja, sehingga menurut Immanuel Kant itu belum berilmu. Sebenar-benar ilmu menurut Immanuel Kant adalah yang bersifat sintetik apriori. Aposteriori sejalan dengan sintetis, yakni paham setelah melihat atau mengalami. Sedangkan apriori sejalan dengan logika, yakni walaupun belum ada kenyataanya tetapi bisa memikirkan. Dunia anak kecil adalah dunia aposteriori, maka matematikanya juga matematika aposteriori yang berarti matematika konkret. Inilah sebenar-benarnya ilmu menurut Immanuel Kant yaitu sintetik apriori, yakni gabungan antara matematika apriori dan matematika sintetik.
         Perkembangan filsafat ini terus mengalir hingga berlanjut sampai akhir zaman, di akhir zaman ada rasionalisme dan ada empirisme, spiritualisme (abad gelap), saintisme (zaman modern), feodalisme dan kapitalisme. Pada abad Ke-8, abad gelap atau zaman gelap terjadi di Eropa, gereja yang menganut dan mempercayai aliran geosentris, pada saat itu kebenaran hanya oleh gereja, setiap manusia tidak boleh berilmu kecuali dengan seizin gereja dan bagi siapapun yang mengutarakan kebenaran tanpa restu dari gereja, maka ia akan dikejar dan dibunuh. Aliran geosentris ini dibantah oleh Copernicusianisme menjadi Heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya), meskipun heliosentris sudah diakui dimanapun namun tidak ada penjelasan lanjut dari pihak  gereja. Pada tahun 1671, filsafat sudah memasuki Era modern. sedangkan sekarang, sudah masuk zaman post modern atau disebut sebagai power now atau zaman kontemporer (filsafat bahasa). Kemudian metafisik, mulai belajar dibalik pikiran orang itu apa yang terjadi. Kemudian saintifisme, muncul fenomena Comte. Menurut Comte, Agama saja tidak bisa/berguna untuk membangun dunia, karena agama dianggap tidak logis/ irrasional, sehingga Comte meletakan saintific pada urutan pertama, kemudian filsafat, dan terakhir agama. Jadi sebenarnya, metode saintifik yang saat ini diterapkan kurikulum di Indonesia itu asalnya dari pemikiran August Comte dengan tesisnya meminggirkan/ mengesampingkan agama. Demikian sampai saat ini muncul dunia power now. Power now mulai dari urutan paling bawah yaitu archaic, tribal, tradisional, feodal, modern, postmodern. Agama diletakkan di tingkat tradisional. Maka yang muncul-muncul saat ini merupakan hasil dari jendela-jendela kontemporer berupa teknologi (misalnya handphone) yang ada pada zaman sekarang, tidak ada nuansa agamanya karena letak agama paling tinggi hanya ada di tradisional. Dan mirisnya, sebenar-benarnya fenomena Comte dan power now sekarang tanpa kita sadari sedikit banyaknya telah membawa pengaruh negatif pada masyarakat kita.

Komentar