Narasi
Besar Dunia
Pada pertemuan keempat ini pembelajaran dilaksanakan
menggunakan metode berbeda dari tiga pertemuan sebelumnya yaitu penyampaian
informasi dengan media papan tulis yang dimanfaatkan oleh Prof. Marsigit untuk
menggambarkan ilustrasi perkembangan filsafat dari awal zaman hingga saat ini
seperti apa (timeline). Di akhir, diilustrasikan dengan gambar ikan di laut
yang menggambarkan kehidupan kita saat ini, diibaratkan seperti ikan-ikan di
laut (orang berfilsafat) yang sedang mencari air yang jernih dari aliran air
dari awal zaman hingga akhir zaman. Aliran air itu diibaratkan dengan ilmu
pengetahuan (pengetahuan filsafat), saat ini banyak ikan yang mengalami
“stress” diperlihatkan dengan ikan yang mecoba untuk terbang atau melompat di atas
permukaan air, ini merupakan perumpamaan dari masalah yang kerap terjadi saat
ini, yaitu banyak sekali orang yang tertipu oleh berita hoaks dikarenakan tidak
mampu memilah milih informasi yang mengakibatkan krisisnya kepercayaan seseorang
terhadap suatu sumber informasi. Pada zaman sekarang itu filsafat kita adalah
filsafat bahasa atau disebut juga dengan filsafat analitik. Filsafat dirasa
agak sulit sebab istilah yang digunakan saat ini memiliki kesamaan dengan zaman
dulu seperti analitik, sintesis, tesis yang arti atau maksudnya agak berbeda
misalnya jugdement dimana jugdement itu istilahnya Imanuel Kant 2,5 abad yang
lalu beda dengan istilah jugdement yang digunakan sekarang. Sederhananya, sama
halnya dengan kita 30 tahun yang lalu dengan sekarang, 30 tahun yang lalu bekas
lurah, namun saat ini tidak lagi disebut bekas lurah namun mantan lurah.
Perkembangan dulu dan sekarang berbeda. Jadi sekarang itu sebenar-benarnya
hidup adalah bahasa karena filsafat yang digunakan adalah filsafat bahasa.
Pada awal mulanya, filsafat terbagi
menjadi dua dunia yaitu dunia langit dan dunia nyata, di langit yang
berhubungan dengan kuasa tuhan dan di dunia nyata yang berhubungan dengan alam.
Filsafat itu cair antara yang di jalankan, di yakini dan di alami, namun dalam
perjalanannya terkanalisasi sehingga terbagi/terpecah menjadi macam-macam
aliran (pemicu intoleransi). Satu ada di pikiran namanya monoisme, dan yang
banyak namanya pluralisme. Zaman materialisme, materialisme berseberangan
dengan idealisme. Materialisme yaitu tidak mengakui adanya tuhan atau etensitas
nonmaterial lain yang biasa kita disebut dengan komunis, di Indonesia yaitu
PKI. Nilai benar dalam filsafat yaitu masing-masing menjadi center, baik itu di
langit maupun di bumi, benarnya satu atau benarnya banyak di materialisme. Prof.
Marsigit menegaskan bahwa filsafat itu bersifat adil dan cair sebab yang ada di
dalam pikiran kita karena dalam filsafat itu hanya ada dua perkara, pertama
yaitu bagaimana menyampaikan/menjelaskan yang ada di pikiran kita ke orang
lain, kedua yaitu bagaimana memahami yang ada di luar pikiran. Namun, sepanjang
sejarah awal-akhir zaman, ternyata tiada satupun orang yang berhasil
menggapainya, contohnya Socrates yang berpendapat bahwa sebenar-benarnya diriku
adalah tidak mengerti apapun.
Konsep idealisme ditingkat atas dan di
bawah itu berbeda, ke atas idealis bersifat identitas A=A sedangkan ke bawah
itu nyata sifatnya kontradiksi A
A, A
A maksudnya diriku tidak
mampu menunjuk diriku apalagi orang lain sebab sebelum aku selesai menunjuk aku
sudah berganti dari tadi menjadi nanti, alasannya yaitu karena filsafat terikat
ruang dan waktu dalam kenyataan tetapi dalam idealnya zonden (tiada) ruang dan
waktu, maka tuhan tidak terikat ruang dan waktu. 2=2 bersifat kontradiksi sebab
dua di kiri belum tentu sama dengan dua yang di kanan, perbedaan yang dimaksud
disini bisa saja berbeda diukuran besar-kecilnya penulisan huruf dua, sedangkan
dua sama dengan dua hanya ada di dalam pikiran itulah sebabnya mengapa
matematika itu abstrak, namun pada tingkat ke bawah matematika haruslah
konkret, siswa sekolah dasar itu dunia nyata jadi belajar matematika siswa
sekolah dasar itu harus konkret, dari idealis menuju absolutisme. Ke
bawah yaitu matematika yang real untuk anak-anak filsafatnya realisme sedangkan
ke atas yaitu matematika yang abstrak filsafatnya adalah idealisme dan
absolutisme.
Absolutisme atau wajib dari tuhan itu
sifatnya absolut, tapi dalam konteks lain itu merupakan wajib yang relatif,
kenyataan dalam filsafat (realisme). Dalam filsafat ada Platonisme (ke atas/
idealisme) dan aristolelianisme (ke bawah/realisme).
Sebenar-benar ilmu menurut Plato adalah pikiran (abstrak). Menurut Aristotel
sebenar-benar ilmu adalah kenyataan (aktivitas). Ilmu menurut Plato ini untuk
orang dewasa ke atas sedangkan ilmu menurut Aristotel untuk anak kecil ke
bawah, walaupun orang dewasa juga sering mengalami kenyataan.
Dalam
pikiran terdapat logika, logika itu bersifat analitik sedangkan kenyataan
bersifat sintetik, menurut pandang orang matematika yang paling penting itu
logis, mulai dari definisi, aksioma, teorema satu sampai teorema seribu,
disinilah matematika murni itu berkutat, bisa dibayangkan jika sebagai guru
kita mengajarkan matematika seperti ini kepada anak-anak, bisa dibayangkan pula
anak-anak tersebut akan hancur dari sisi intuisinya (ruang dan waktu). Intuisi
dalam filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada, yang paling sederhana
adalah intuisi ruang dan waktu. Pengetahuan intuitif itu perlu untuk dimiliki
oleh seseorang, ciri intuisi itu, kapan datangnya itu tidak mengerti lupa dari
mana memperolehnya namun yang penting itu paham/ngerti. Bagi anak kecil belajar
konsep bilangan satu tidaklah melalui definisi, konsep bilangan satu intuitif
bagi anak kecil, bagi orang dewasa tidak masalah menggunakan definisi atau
sesuatu yang lebih kompleks. Logika analitik, analitik tidak perlu sesuai
kenyataannya, matematika murni tidak perlu kenyataan yang penting logis saja, sehingga
menurut Immanuel Kant itu belum berilmu. Sebenar-benar ilmu menurut Immanuel
Kant adalah yang bersifat sintetik apriori. Aposteriori sejalan dengan
sintetis, yakni paham setelah melihat atau mengalami. Sedangkan apriori sejalan
dengan logika, yakni walaupun belum ada kenyataanya tetapi bisa memikirkan.
Dunia anak kecil adalah dunia aposteriori, maka matematikanya juga matematika
aposteriori yang berarti matematika konkret. Inilah sebenar-benarnya ilmu
menurut Immanuel Kant yaitu sintetik apriori, yakni gabungan antara matematika
apriori dan matematika sintetik.
Perkembangan
filsafat ini terus mengalir hingga berlanjut sampai akhir zaman, di akhir zaman
ada rasionalisme dan ada empirisme, spiritualisme (abad gelap), saintisme
(zaman modern), feodalisme dan kapitalisme. Pada abad Ke-8, abad gelap atau
zaman gelap terjadi di Eropa, gereja yang menganut dan mempercayai aliran
geosentris, pada saat itu kebenaran hanya oleh gereja, setiap manusia tidak
boleh berilmu kecuali dengan seizin gereja dan bagi siapapun yang mengutarakan
kebenaran tanpa restu dari gereja, maka ia akan dikejar dan dibunuh. Aliran
geosentris ini dibantah oleh Copernicusianisme menjadi Heliosentris (matahari
sebagai pusat tata surya), meskipun heliosentris sudah diakui dimanapun namun
tidak ada penjelasan lanjut dari pihak
gereja. Pada tahun 1671, filsafat sudah memasuki Era modern. sedangkan
sekarang, sudah masuk zaman post modern atau disebut sebagai power now atau
zaman kontemporer (filsafat bahasa). Kemudian metafisik, mulai belajar dibalik
pikiran orang itu apa yang terjadi. Kemudian saintifisme, muncul fenomena
Comte. Menurut Comte, Agama saja tidak bisa/berguna untuk membangun dunia,
karena agama dianggap tidak logis/ irrasional, sehingga Comte meletakan
saintific pada urutan pertama, kemudian filsafat, dan terakhir agama. Jadi
sebenarnya, metode saintifik yang saat ini diterapkan kurikulum di Indonesia
itu asalnya dari pemikiran August Comte dengan tesisnya meminggirkan/ mengesampingkan
agama. Demikian sampai saat ini muncul dunia power now. Power now mulai dari urutan
paling bawah yaitu archaic, tribal, tradisional, feodal, modern, postmodern.
Agama diletakkan di tingkat tradisional. Maka yang muncul-muncul saat ini
merupakan hasil dari jendela-jendela kontemporer berupa teknologi (misalnya handphone) yang ada pada zaman sekarang,
tidak ada nuansa agamanya karena letak agama paling tinggi hanya ada di
tradisional. Dan mirisnya, sebenar-benarnya fenomena Comte dan power now sekarang
tanpa kita sadari sedikit banyaknya telah membawa pengaruh negatif pada
masyarakat kita.

Komentar
Posting Komentar