Langsung ke konten utama

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Pertemuan Ketiga 03/10/2017 oleh Andi Gusmaulia Eka Putri

Pada pertemuan ketiga perkuliahan filsafat ini diadakan kuis jawab singkat yang kedua yaitu kuis tentang gejala filsafat, terdapat 25 soal dan kami mahasiswa diminta menyebutkan istilah dari gejala filsafat berdasarkan petunjuk atau ilustrasi yang diberikan oleh Prof. Marsigit. Hasil pada kuis ini masih sama dengan minggu lalu rata-rata masih mendapatkan nilai nol, yang artinya masih banyak yang belum kami ketahui berkenaan dengan istilah maupun aliran dalam filsafat. Beberapa istilah filsafat berdasarkan kuis jawab singkat tersebut yaitu: disharmoni, simbolism, mitos, skeptisisme, determinisme, fiksionisme, subjectivism, objektivisme, teologi, utilitarian, relativisme, absolutisme, idealism, fundasionalisme, intuisionisme, reductionisme, monoisme, nihilisme, hermenitika, infinite regress, authoritarian, kapitalisme, analitik, dan apostriori.
Kegiatan belajar filsafat pada pertemuan ini yaitu membahas tugas yang diberikan pada pertemuan pertama yaitu masing-masing diminta menuliskan lima pertanyaan berkaitan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Prof. Marsigit memilih dan menjawab masing-masing satu pertanyaan dari lima pertanyaan yang dituliskan oleh mahasiswa pada kertas yang dikumpulkan.
Pertanyaan dari Dimas Candra Saputra: Kapan seseorang dikatakan menguasai ilmu?
Prof. Marsigit menjawab bahwa untuk menguasai ilmu adalah dengan menggunakan ilmu, ilmu yang berilmu. Contohnya ketika seseorang ditanyakan atau diminta menyebutkan warna handphone, jika ia menyebutkan warna yang sesuai dengan warna dari handphone  maka itulah yang disebut dengan belum menguasai ilmu berbeda dengan bila seseorang tersebut menjawabnya dengan warna selain dari warna dari penampakan handphone tersebut, itulah yang dikatakan dengan menguasai ilmu, sebab warna itu adalah apa yang kita pikirkan, sedangkan yang kita pikirkan itu adalah apa yang kita lihat dan apa yang kita lihat itu beda dengan apa yang dimilikinya oleh handphone itu, yang dimiliki oleh handphone itu terserap ke dalam handphone tersebut, jadi handphone tersebut menyerap semua warna kecuali warna yang nampak oleh penglihatan indera kita, hal ini dikarenakan handphone tersebut tidak mampu menyerap warna yang tampak oleh mata, oleh karena itu warna penampakan (fisik) dari handphone itu dipantulkan ke mata kita makanya kita menyimpulkan bahwa warna dari handphone tersebut adalah warna yang terlihat oleh mata kita. Misalnya handphone berwarna putih sebenarnya warna dari handphone itu adalah selain dari warna putih. Hal inilah yang kita katakan dengan metafisik yaitu sesuatu yang disebalik penampakan, menguasai ilmu dengan ilmu.
Perrtanyaan dari Vidiya Rachmawati yaitu:
1)   Mengapa orang itu ada yang rajin ada yang malas?
Prof. Marsigit menjelaskan bahwa sebenar-benarnya orang hidup adalah rajin dalam kemalasan dan malas dalam kerajinan (rajin), tinggal menentukan kapan malas kapan rajin, penilaian rajin atau malas itu relatif, apalagi berjalan interval tertentu. Bukanlah hal yang baik apabila seseorang rajin dalam segala hal, sebab tidak semua rajin itu selalu bermakna baik. Misalnya: rajin mengambil milik orang lain, rajin mencela orang, rajin menggunjing orang. Sehingga oleh karena itu, malaspun perlu bagi kita. Jadi, malaslah untuk hal-hal tertentu, misalnya malas korupsi, malas berbohong, malas berkata-kata buruk. Setiap kata itu dunia, malas dalam artian seperti malas bekerja, malas beribadah itu adalah malas dalam artian parsial, untuk itu gunakanlah pikiran dan mulai memahami bahwa ada kemalasan yang penting. Inilah salah satu dari pentingnya bagi kita untuk belajar berfilsafat, agar pemikiran kita itu komprehensif dan memandang tidak hanya disatu sisi namun lebih kontekstual dan mengalir.
2)   Bagaimana membuat orang lain mengikuti pemikiran kita?
Prof. Marsigit menanggapinya pertanyaan ini dengan berbalik menanya apakah harus, justru dengan orang lain mengikuti pemikiranmu itu akan membatasi ruang gerakmu, ketika kamu berhenti orang lain akan ikut terhenti pula. Misalnya kamu masuk lubang semut dan orang lain mengikutimu, orang lain akan sengsara disebabkan karena mengikutimu. Oleh sebab itu,  janganlah mengikuti orang lain, sebab jika kamu mengikuti seseorang tersebut maka sama saja kamu menjadi bayang-bayang dari orang tersebut akibatnya kamu menjadi tidak berdaya, tidak mampu bergerak, dalam artian tidak memiliki jadi diri. Oleh, karena itu jadilah dirimu sendiri.
Pertanyaan dari Gina Sasmita Pratama yaitu:
1)   Apa satu hal yang ingin Bapak ubah didunia?
Prof. Marsigit menjawab bahwa beliau tidak memiliki kapasitas untuk merubah dunia, tetapi beliau memiliki visi dan misi agar dunia itu mampu berfikir. Hidup dan mati sesuai dengan dunianya, jadi di dalam ruang kelas itu kami mahasiswa itu sedang dihidupkan, agar berpikir. Sebenar-benarnya orang hidup adalah berfikir, berfikir dalam sisi filsafat. 2) Usaha terbaik beliau, beliau menjawab usaha terbaik itu bila sesuai dengan ruang dan waktunya. Berfilsafat itu meliputi berfikir hirarkis, sitemik dan dunia, jadi usaha terbaik itu sesuai dengan ruang dan waktunya yaitu pada saat ruang dan waktu itulah, meliputi fisik dan spiritualnya. Setinggi-tingginya spiritual adalah diridhoi Allah SWT, agar diridhoi maka harus selalu dalam keadaan berdoa.
Pertanyaan dari Andi Gusmaulia Eka Putri yaitu:
1)   Bagaimana caranya mengatasi keraguan?
Prof. marsigit menjawab karena ini dalam konteks filsafat, maka keraguan yang dimaksud juga dalam konteks filsafat, keraguan dari level bawah sampai keraguan dari level tinggi. Kalau badanmu ragu-ragu atau fisikmu ragu-ragu maka itu sulit dikendalikan. Ragu-ragu dipikiran, itulah sebenar-benarnya tanda bahwa kita mau berfikir maka sebenar-benarnya filsafat silahkan engkau ragukan semuanya itu, tapi jangan sekali-kali meragu di dalam hati karena sebenar-benarnya ragu di hati itu adalah godaan syaiton. Oleh, karena itu sebenar-benarnya cara untuk mengatasi ganguan atau godaan hati adalah dengan memohon kepada Allah SWT, berdoa dan berzikir agar selalu dilindungi hatimu itu. Keraguan fisik, keraguan hati, keraguan pikiran, keraguan spiritual jangan sekali-kali ragu sebab itu adalah keyakinan kita. Keraguan dalam pikiran oleh rene descrates, alirannya disebut dengan rasionalism atau skeptisme.
2)   Bagaimana caranya menyelaraskan lisan dengan pikiran?
Prof. Marsigit menjelaskan bahwa manusia itu tidak hanya satu koordinat, tidak cuma  x dan y manusia itu bisa satu miliyar pangkat satu miliyar sumbu. Sumbu yang dimaksud disini misalnya separti sumbu bicara, sumbu mendengar, sumbu merasa, sumbu ekonomi, sumbu perasaan, sumbu hubungan dengan orang tua, sumbu pikiran, dan bila dilanjutkan itu infinite regress tidak akan ada habisnya. Maka, jika berbicara bagaimana untuk menyelaraskan lisan dan pikiran itu baru dua sumbu yaitu sumbu lisan dan sumbu pikiran, pendengaranmu juga perlu diselaraskan, tidakanmu juga perlu diselaraskan, hatimu juga perlu diselaraskan, jiwa raga perlu diselaraskan caranya yaitu hermenitika. Hermenitika itu mengalir sesuai dengan ruang dan waktunya  menggunakan pola sumbu tiga dimensi spiral, maju berkelanjutan linier dan siklik. Hidup kita ini ada sumbu linier ada sumbu siklik, alasan linier adalah kita tidak bisa mengulangi tahun ini bulan ini tanggal ini jam ini detik ini sedangkan alasan siklik yaitu mudah-mudahan minggu depan masih ada hari selasa. Siklik digabung dengan linier jadi spiral maju berkelanjutan, itulah sebenar-benarnya lintasan bumi mengelilingi matahari yaitu kodrat sunatullah.
Pertanyaan  secara lisan diajukan oleh Angga Kristiyajati yaitu apa perbedaan noumena dengan metafisik, Prof. Marsigit menjawab bahwa dalam hal ini tidak bisa dibedakan secara terpisah sebab keduanya memiliki keterkaitan yang bisa kita pahami dengan panca indra itu namanya fenomena, tapi memahami dengan panca indra itu terbatas tergantung orangnya dan tergantung ilmunya itu namanya metafisik.sedangkan sesuatu yang tidak bisa dipahami dengan panca indra itu namanya noumena (misalnya arwah) cara untuk memahaminya yaitu dengan spiritual yang bisa kita pahami dan temukan maksudnya melalui penjelasan dalam Al-qur’an dan Hadis sehingga dari sanalah kita memahami dan percaya bahwa ada sesuatu/ istilah yang tidak bisa kita pahami dengan panca indra yaitu adanya alam kandungan, alam barzah, dll.
1)      Apakah tanda-tanda seseorang seseorang telah berfilsafat?
Prof. Marsigit menjelakan bahwa filsafat itu 1001 macam definisi bisa saja itu olah pikir, bertanya maupun refleksi. Refleksi itu adalah menjawab tentang mengapa bergitu atau penjelasannya bukan sekedar bisa menyebutkan namun tau mengapa dan bagaimana menjelaskannya. Berfilsafat itu berfikir refleksif/ memantul dan dihermenitikakan yaitu diterjemahkan dan menerjemahkan.
Pertanyaan dari Maghfirah yaitu: Hubungan filsafat dengan matematika?

Prof. Marsigit menjelaskan bahwa belajar filsafat ini merupakan sarana untuk membongkar pembelajaran matematika. Filsafat itu ada dunia ideal dan dunia realis, dunia cita-cita  dan dunia kenyataan. Matematika murni adalah dunia cita-cita dunia orang dewasa, tanpa dunia kenyataan.  Bila dihubungkan ke dunia anak anak yang merupakan dunia kenyataan tidak memungkinkan untuk menggunakan ilmunya orang murni, inilah salah satu peran filsafat yaitu menyesuaikan dunianya, ibarat gunung matematika formal itu laharnya kemudian matematika sekolah dasar itu lembahnya dan siswa itu hidupnya (posisinya) berada disekitar lembah sehingga bila tidak bijaksana menerapkan matematika yang bersifat formal kepada anak-anak, lahar itu turun maka hancurlah siswa-siswa itu. Untuk anak kecil tidak ada ilmu, semua ilmu apapun untuk anak kecil didefinisikan sebagai kegiatan, jadi bila tidak ada kegiatan di kelas maka tidak ada matematika. Jadi, dengan hubungan belajar filsafat  dengan matematika itu adalah  untuk menyesuaikan penerapan matematika sesuai dan sebagaimana kodratnya, ke bawah yaitu matematika yang real untuk anak-anak filsafatnya realisme sedangkan ke atas yaitu matematika yang abstrak filsafatnya adalah idealisme dan absolutisme.

Komentar