Pada
pertemuan ketiga perkuliahan filsafat ini diadakan kuis jawab singkat yang
kedua yaitu kuis tentang gejala filsafat, terdapat 25 soal dan kami mahasiswa
diminta menyebutkan istilah dari gejala filsafat berdasarkan petunjuk atau ilustrasi
yang diberikan oleh Prof. Marsigit. Hasil pada kuis ini masih sama dengan
minggu lalu rata-rata masih mendapatkan nilai nol, yang artinya masih banyak
yang belum kami ketahui berkenaan dengan istilah maupun aliran dalam filsafat. Beberapa
istilah filsafat berdasarkan kuis jawab singkat tersebut yaitu: disharmoni, simbolism,
mitos, skeptisisme, determinisme, fiksionisme, subjectivism, objektivisme, teologi,
utilitarian, relativisme, absolutisme, idealism, fundasionalisme, intuisionisme,
reductionisme, monoisme, nihilisme, hermenitika, infinite regress, authoritarian,
kapitalisme, analitik, dan apostriori.
Kegiatan belajar filsafat pada pertemuan
ini yaitu membahas tugas yang diberikan pada pertemuan pertama yaitu
masing-masing diminta menuliskan lima pertanyaan berkaitan dengan masalah dalam
kehidupan sehari-hari. Prof. Marsigit memilih dan menjawab masing-masing satu
pertanyaan dari lima pertanyaan yang dituliskan oleh mahasiswa pada kertas yang
dikumpulkan.
Pertanyaan
dari Dimas Candra Saputra: Kapan seseorang dikatakan menguasai ilmu?
Prof.
Marsigit menjawab bahwa untuk menguasai ilmu adalah dengan menggunakan ilmu,
ilmu yang berilmu. Contohnya ketika seseorang ditanyakan atau diminta
menyebutkan warna handphone, jika ia
menyebutkan warna yang sesuai dengan warna dari handphone maka itulah yang
disebut dengan belum menguasai ilmu berbeda dengan bila seseorang tersebut
menjawabnya dengan warna selain dari warna dari penampakan handphone tersebut, itulah yang dikatakan dengan menguasai ilmu,
sebab warna itu adalah apa yang kita pikirkan, sedangkan yang kita pikirkan itu
adalah apa yang kita lihat dan apa yang kita lihat itu beda dengan apa yang
dimilikinya oleh handphone itu, yang
dimiliki oleh handphone itu terserap ke dalam handphone tersebut, jadi handphone
tersebut menyerap semua warna kecuali warna yang nampak oleh penglihatan
indera kita, hal ini dikarenakan handphone
tersebut tidak mampu menyerap warna yang tampak oleh mata, oleh karena itu
warna penampakan (fisik) dari handphone
itu dipantulkan ke mata kita makanya kita menyimpulkan bahwa warna dari handphone tersebut adalah warna yang
terlihat oleh mata kita. Misalnya handphone
berwarna putih sebenarnya warna dari handphone
itu adalah selain dari warna putih. Hal inilah yang kita katakan dengan metafisik
yaitu sesuatu yang disebalik penampakan, menguasai ilmu dengan ilmu.
Perrtanyaan
dari Vidiya Rachmawati yaitu:
1) Mengapa
orang itu ada yang rajin ada yang malas?
Prof.
Marsigit menjelaskan bahwa sebenar-benarnya orang hidup adalah rajin dalam
kemalasan dan malas dalam kerajinan (rajin), tinggal menentukan kapan malas
kapan rajin, penilaian rajin atau malas itu relatif, apalagi berjalan interval
tertentu. Bukanlah hal yang baik apabila seseorang rajin dalam segala hal,
sebab tidak semua rajin itu selalu bermakna baik. Misalnya: rajin mengambil
milik orang lain, rajin mencela orang, rajin menggunjing orang. Sehingga oleh
karena itu, malaspun perlu bagi kita. Jadi, malaslah untuk hal-hal tertentu,
misalnya malas korupsi, malas berbohong, malas berkata-kata buruk. Setiap kata
itu dunia, malas dalam artian seperti malas bekerja, malas beribadah itu adalah
malas dalam artian parsial, untuk itu gunakanlah pikiran dan mulai memahami
bahwa ada kemalasan yang penting. Inilah salah satu dari pentingnya bagi kita
untuk belajar berfilsafat, agar pemikiran kita itu komprehensif dan memandang
tidak hanya disatu sisi namun lebih kontekstual dan mengalir.
2) Bagaimana
membuat orang lain mengikuti pemikiran kita?
Prof.
Marsigit menanggapinya pertanyaan ini dengan berbalik menanya apakah harus,
justru dengan orang lain mengikuti pemikiranmu itu akan membatasi ruang
gerakmu, ketika kamu berhenti orang lain akan ikut terhenti pula. Misalnya kamu
masuk lubang semut dan orang lain mengikutimu, orang lain akan sengsara
disebabkan karena mengikutimu. Oleh sebab itu,
janganlah mengikuti orang lain, sebab jika kamu mengikuti seseorang
tersebut maka sama saja kamu menjadi bayang-bayang dari orang tersebut
akibatnya kamu menjadi tidak berdaya, tidak mampu bergerak, dalam artian tidak
memiliki jadi diri. Oleh, karena itu jadilah dirimu sendiri.
Pertanyaan
dari Gina Sasmita Pratama yaitu:
1) Apa
satu hal yang ingin Bapak ubah didunia?
Prof. Marsigit menjawab
bahwa beliau tidak memiliki kapasitas untuk merubah dunia, tetapi beliau
memiliki visi dan misi agar dunia itu mampu berfikir. Hidup dan mati sesuai
dengan dunianya, jadi di dalam ruang kelas itu kami mahasiswa itu sedang
dihidupkan, agar berpikir. Sebenar-benarnya orang hidup adalah berfikir,
berfikir dalam sisi filsafat. 2) Usaha terbaik beliau, beliau menjawab usaha
terbaik itu bila sesuai dengan ruang dan waktunya. Berfilsafat itu meliputi
berfikir hirarkis, sitemik dan dunia, jadi usaha terbaik itu sesuai dengan
ruang dan waktunya yaitu pada saat ruang dan waktu itulah, meliputi fisik dan
spiritualnya. Setinggi-tingginya spiritual adalah diridhoi Allah SWT, agar
diridhoi maka harus selalu dalam keadaan berdoa.
Pertanyaan
dari Andi Gusmaulia Eka Putri yaitu:
1) Bagaimana
caranya mengatasi keraguan?
Prof. marsigit menjawab
karena ini dalam konteks filsafat, maka keraguan yang dimaksud juga dalam
konteks filsafat, keraguan dari level bawah sampai keraguan dari level tinggi.
Kalau badanmu ragu-ragu atau fisikmu ragu-ragu maka itu sulit dikendalikan.
Ragu-ragu dipikiran, itulah sebenar-benarnya tanda bahwa kita mau berfikir maka
sebenar-benarnya filsafat silahkan engkau ragukan semuanya itu, tapi jangan
sekali-kali meragu di dalam hati karena sebenar-benarnya ragu di hati itu
adalah godaan syaiton. Oleh, karena itu sebenar-benarnya cara untuk mengatasi
ganguan atau godaan hati adalah dengan memohon kepada Allah SWT, berdoa dan
berzikir agar selalu dilindungi hatimu itu. Keraguan fisik, keraguan hati,
keraguan pikiran, keraguan spiritual jangan sekali-kali ragu sebab itu adalah
keyakinan kita. Keraguan dalam pikiran oleh rene descrates, alirannya disebut
dengan rasionalism atau skeptisme.
2) Bagaimana
caranya menyelaraskan lisan dengan pikiran?
Prof. Marsigit
menjelaskan bahwa manusia itu tidak hanya satu koordinat, tidak cuma x dan y manusia itu bisa satu miliyar pangkat
satu miliyar sumbu. Sumbu yang dimaksud disini misalnya separti sumbu bicara,
sumbu mendengar, sumbu merasa, sumbu ekonomi, sumbu perasaan, sumbu hubungan
dengan orang tua, sumbu pikiran, dan bila dilanjutkan itu infinite regress
tidak akan ada habisnya. Maka, jika berbicara bagaimana untuk menyelaraskan
lisan dan pikiran itu baru dua sumbu yaitu sumbu lisan dan sumbu pikiran, pendengaranmu
juga perlu diselaraskan, tidakanmu juga perlu diselaraskan, hatimu juga perlu
diselaraskan, jiwa raga perlu diselaraskan caranya yaitu hermenitika.
Hermenitika itu mengalir sesuai dengan ruang dan waktunya menggunakan pola sumbu tiga dimensi spiral,
maju berkelanjutan linier dan siklik. Hidup kita ini ada sumbu linier ada sumbu
siklik, alasan linier adalah kita tidak bisa mengulangi tahun ini bulan ini
tanggal ini jam ini detik ini sedangkan alasan siklik yaitu mudah-mudahan
minggu depan masih ada hari selasa. Siklik digabung dengan linier jadi spiral
maju berkelanjutan, itulah sebenar-benarnya lintasan bumi mengelilingi matahari
yaitu kodrat sunatullah.
Pertanyaan secara lisan diajukan oleh Angga Kristiyajati
yaitu apa perbedaan noumena dengan metafisik, Prof. Marsigit menjawab bahwa
dalam hal ini tidak bisa dibedakan secara terpisah sebab keduanya memiliki
keterkaitan yang bisa kita pahami dengan panca indra itu namanya fenomena, tapi
memahami dengan panca indra itu terbatas tergantung orangnya dan tergantung
ilmunya itu namanya metafisik.sedangkan sesuatu yang tidak bisa dipahami dengan
panca indra itu namanya noumena (misalnya arwah) cara untuk memahaminya yaitu
dengan spiritual yang bisa kita pahami dan temukan maksudnya melalui penjelasan
dalam Al-qur’an dan Hadis sehingga dari sanalah kita memahami dan percaya bahwa
ada sesuatu/ istilah yang tidak bisa kita pahami dengan panca indra yaitu
adanya alam kandungan, alam barzah, dll.
1) Apakah
tanda-tanda seseorang seseorang telah berfilsafat?
Prof.
Marsigit menjelakan bahwa filsafat itu 1001 macam definisi bisa saja itu olah
pikir, bertanya maupun refleksi. Refleksi itu adalah menjawab tentang mengapa
bergitu atau penjelasannya bukan sekedar bisa menyebutkan namun tau mengapa dan
bagaimana menjelaskannya. Berfilsafat itu berfikir refleksif/ memantul dan dihermenitikakan
yaitu diterjemahkan dan menerjemahkan.
Pertanyaan
dari Maghfirah yaitu: Hubungan filsafat dengan matematika?
Prof.
Marsigit menjelaskan bahwa belajar filsafat ini merupakan sarana untuk
membongkar pembelajaran matematika. Filsafat itu ada dunia ideal dan dunia
realis, dunia cita-cita dan dunia
kenyataan. Matematika murni adalah dunia cita-cita dunia orang dewasa, tanpa
dunia kenyataan. Bila dihubungkan ke
dunia anak anak yang merupakan dunia kenyataan tidak memungkinkan untuk
menggunakan ilmunya orang murni, inilah salah satu peran filsafat yaitu
menyesuaikan dunianya, ibarat gunung matematika formal itu laharnya kemudian
matematika sekolah dasar itu lembahnya dan siswa itu hidupnya (posisinya)
berada disekitar lembah sehingga bila tidak bijaksana menerapkan matematika
yang bersifat formal kepada anak-anak, lahar itu turun maka hancurlah
siswa-siswa itu. Untuk anak kecil tidak ada ilmu, semua ilmu apapun untuk anak
kecil didefinisikan sebagai kegiatan, jadi bila tidak ada kegiatan di kelas
maka tidak ada matematika. Jadi, dengan hubungan belajar filsafat dengan matematika itu adalah untuk menyesuaikan penerapan matematika sesuai
dan sebagaimana kodratnya, ke bawah yaitu matematika yang real untuk anak-anak
filsafatnya realisme sedangkan ke atas yaitu matematika yang abstrak
filsafatnya adalah idealisme dan absolutisme.
Komentar
Posting Komentar