Perkuliahan
filsafat ilmu pada pertemuan ini diawali dengan tes jawab singkat yang terdiri
dari 25 soal, yang setelah dikoreksi rata-rata pada umumnya mahasiswa
memperoleh nilai nol, merasa kecewa tentu tapi semua orang juga merasakan hal
yang serupa. Prof. Marsigit menanggapinya dengan menghubungkan pada istilah nolisasi
filsafat, bahwa orang belajar itu perlu memulainya dari bawah sebab kalau sudah
lebih tinggi itu sulit untuk belajar, dengan memperoleh nilai nol menjadi
refleksi evaluasi diri untuk perbaikan diri serta menjadi bahan renungan dan pemikiran
untuk memutuskan bagaimana caranya kita dalam mengatasi hal itu, maka satu-satunya
cara adalah dengan belajar, belajar dan belajar. Belajar itu dimana saja dan
kapan saja terlepas ruang dan waktu, syaratnya itu ikhlas dalam hati dan ikhlas
dalam pikiran. Ikhlas dalam hati itu membaca dengan tenang dan merasa membaca
itu termasuk dari bentuk ibadah, kemudian ikhlas dalam pikir itu ialah pahami
apa yang dibaca maksudnya membaca dengan mengerti apa yang dibaca.
Ada tiga pilar dalam filsafat yaitu,
hakikat, metode dan manfaat (ontologi, epistimologi, dan aksiologi). Ketika
seseorang telah mempelajari filsafat
maka dimensi berpikirnya sudah naik menjadi orang-orang khusus bukan
orang orang umum atau bukan orang-orang awam lagi, oleh sebab itu, bijaklah
dalam menggunakan filsafat jangan berbicara filsafat disembarang tempat, sebab
sebenar-benar salah itu tidak tepat ruang dan waktunya.
Manusia adalah potensi, potensi bila
dinaikkan sedikit tingkatnya menjadi spritual kita kenal namanya dengan ciptaan
tuhan, semua ciptaan tuhan adalah potensi dalam arti filsafat. Potensi itu bisa
bertambah besar ataupun bertambah kecil, potensi ini masih bersifat sembarang
dan belum mempunyai arah yaitu bisa potensi menjadi baik atau potensi menjadi buruk,
misalnya siang potensi untuk menjadi malam dan malam menjadi potensi untuk
siang. Potensi dalam perjalanan manusia itu ada dua yaitu potensi takdir dan
potensi ikhtiar/potensi fatal dan potensi fital. Potensi ikhtiar adalah
berubah, ikhiar berubah tidak hanya dikarenakan oleh manusia bisa juga karena
sistem alam semesta sedangkan potensi takdir adalah sunatullah kodrat dari
allah. Misalnya: batu mempunyai potensi dua tercipta ditakdirkan dan berubah
(karena cuaca, tendangan binatang, tangan manusia). Manusia memiliki potensi
dipilih dan memilih, dipilih misalnya seseorang yang lahir disuatu tempat
tertentu karena memang sudah ditakdirkan untuk lahir di tempat tersebut,
kemudian manusia juga memiliki potensi untuk memilih misalnya seperti memilih
suami, memilih sahabat, memilih rumah, memilih pandangan, memilih dengar,
memilih niat, dan memilih lainnya lagi karena memilih merupakan ikhtiar dari
seseorang sebab hidup itu adalah pilihan dan tujuan dari hidup seseorang adalah
memilih. Setinggi-tingginya tujuan hanya satu
tujuan dalam hidup yaitu adalah menjadi saksi.
Menurut
istilah dalam filsafat idola itu merupakan potensi gelap segala sesuatu berpotensi
hitam atau potensi buruk, idola memberikan pengaruh buruk atau sesuatu yang
dapat menggoda dirimu. Sesuatu yang berada di depan kita adalah fenomena, sesuatu
yang di belakang kita adalah epoche yang dimaksud dengan epoche yaitu menyensuaikan
diri atau memfokuskan diri pada apa yang ada dihadapan kita, sedangkan segala
sesuatu selain dari yang ada di
hadapan atau yang bukan menjadi fokus saat ini dimasukkan ke dalam epoche atau dapat
kita katakan secara sederhana epoche itu adalah dilupakan sementara/
dikesampingkan dulu. Sesuatu di atas kita adalah transenden dan yang berada di bawah
kita itu bayang-bayang. Hidup kita itu adalah bayang-bayang dari ajaran, agama,
kitab suci Al-qur’an, hadis, ajaran orang tua, nasehat orang tua, kita ini
adalah bayang-bayang. Sesuatu yang dianggap indah dalam filsafat yaitu etika
dan estetika. Dalam konteks filsafat hal yang dibenci itu adalah mitos, mitos
itu adalah posisi ditengah-tengah yaitu nyaman, nyaman adalah mitos. Sebenar-benarnya
nyaman adalah perjalanan ketidaknyamanan itulah. Mitos itu berarti diam,
berhenti berpikir, dan merasa telah jelas. Prof. Marsigit menegaskan bahwa dalam
filsafat semua kejelasan itu adalah mitos berbeda halnya dalam matematika,
belajar matematika adalah supaya jelas, namun tidak dengan filsafat sebab bila
dalam filsafat jelas, berarti engkau berhenti berpikir karena merasa tidak ada
yang tidak jelas adalah berbahaya bagi filsafat. Setiap kata dalam filsafat
adalah dunia, contoh: batu dunianya batu, jilbab dunianya jilbab, Andi adalah
dunianya Andi, Marsigit adalah dunianya Marsigit dan infinite regress.
Dalam
konteks filsafat saat ini yang kita lakukan adalah mengada, sebenar-benarnya
mengada adalah perubahan. Sebenar-benar hidup adalah mengada, hasil dari
mengada adalah pengada. Misalnya sebelum
dilakukan tes, peserta tes itu adalah mengada namun bila sudah dalam bentuk
nilai atau setelah jadi dalam bentuk hasil itu namanya pengada (karya).
Sebenar- benarnya belajar adalah mengada dari yang ada sampai yang mungkin ada,
yang ada itu ada sesuatu yang kita mengerti dan ada di dalam pikiran dan yang
mungkin ada itu ada sesuatu yang tidak kita mengerti. Objek filsafat adalah
yang ada dan yang mungkin ada, yang ada yaitu segala sesuatu yang ada dipikiranmu
dan sesuatu yang mungkin ada itu adalah segala sesuatu yang belum kamu ketahui.
Dalam berfilsafat sebenar-benarnya dirimu adalah bahasamu, sebenar-benar dirimu
adalah kata-katamu, maka kita perlu berhati-hati dalam berbicara maupun berkata-kata.
Bacaan dalam berfilsafat itu adalah adalah segala sesuatu yang ada dan yang
mungkin ada, Laboraturium filsafat itu
adalah semua ciptaan tuhan, yang ada dan yang mungkin ada bagi masing-masing
kita berbeda-beda itulah sebabnya kita lebih banyak mencari tahu dan perbanyak
bacaan.
Semua
ilmu kalah dengan maksud, misalnya ketika seseorang ingin menjadi seorang dokter gigi maka semua ilmu yang tidak ada
hubungannya dokter gigi itu kalah. Prof. Marsigit mengatakan bahwa
setinggi-tinggi ilmu kalah dengan maksud, jadi beliau berpesan untuk
berhati-hatilah dan mengendalikan diri
dari keinginan-keinginan apalagi keingian yang tidak baik sebab bisa
mengalahkan segala ilmu. Sebenar-benarnya hidup adalah kalau kita berada di
perbatasan. Di dalam perbatasan itulah terdapat ilmu, batas antara jelas dan
tidak jelas, batas antara nyaman dan tidak nyaman disini mengandung maksud,
bahwa pikiran sah-sah saja perbedaan, justru ilmu muncul karena adanya
perbedaan jangan sampai perbedaan menjadi batas. Justru karena ada perbedaan
itulah kita mempunyai ilmu.
Sebelum mengakhiri perkuliahan, Prof.
Marsigit menjawab satu pertanyaan dari salah satu rekan mahasiswa yang
menanyakan tentang definisi bahagia menurut beliau, kemudian beliau menjawab bahwa
bahagia itu adalah bila sesuai dengan ruang dan waktu, cocok dengan ruang dan
waktunya dalam artian sunatullah sesuai dengan kodratnya sesuai dengan hukumnya.
kebahagiaan bagi beliau adalah apabila menjalani hidup ini dengan sebagaimana
mestinya saat belajar ya belajar, saat beribadah maka beribadah, waktunya
sholat maka sholat, saatnya kuliah kuliah itulah namnya istiqomah. Jika memang
sedang ada masalah maka harus bersabar dan bertawakal. Sungguh merupakan
jawaban yang bijak dan bermakna sekali serta memberikan pencerahan bagi
mahasiswa atau siapapun yang menginginkan untuk meraih kebahagian hidup ala Prof.
Marsigit.
Komentar
Posting Komentar