Langsung ke konten utama

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Pertemuan Kedua 26/09/2017 oleh Andi Gusmaulia Eka Putri

Perkuliahan filsafat ilmu pada pertemuan ini diawali dengan tes jawab singkat yang terdiri dari 25 soal, yang setelah dikoreksi rata-rata pada umumnya mahasiswa memperoleh nilai nol, merasa kecewa tentu tapi semua orang juga merasakan hal yang serupa. Prof. Marsigit menanggapinya dengan menghubungkan pada istilah nolisasi filsafat, bahwa orang belajar itu perlu memulainya dari bawah sebab kalau sudah lebih tinggi itu sulit untuk belajar, dengan memperoleh nilai nol menjadi refleksi evaluasi diri untuk perbaikan diri serta menjadi bahan renungan dan pemikiran untuk memutuskan bagaimana caranya kita dalam mengatasi hal itu, maka satu-satunya cara adalah dengan belajar, belajar dan belajar. Belajar itu dimana saja dan kapan saja terlepas ruang dan waktu, syaratnya itu ikhlas dalam hati dan ikhlas dalam pikiran. Ikhlas dalam hati itu membaca dengan tenang dan merasa membaca itu termasuk dari bentuk ibadah, kemudian ikhlas dalam pikir itu ialah pahami apa yang dibaca maksudnya membaca dengan mengerti apa yang dibaca.
Ada tiga pilar dalam filsafat yaitu, hakikat, metode dan manfaat (ontologi, epistimologi, dan aksiologi). Ketika seseorang telah mempelajari filsafat  maka dimensi berpikirnya sudah naik menjadi orang-orang khusus bukan orang orang umum atau bukan orang-orang awam lagi, oleh sebab itu, bijaklah dalam menggunakan filsafat jangan berbicara filsafat disembarang tempat, sebab sebenar-benar salah itu tidak tepat ruang dan waktunya.
Manusia adalah potensi, potensi bila dinaikkan sedikit tingkatnya menjadi spritual kita kenal namanya dengan ciptaan tuhan, semua ciptaan tuhan adalah potensi dalam arti filsafat. Potensi itu bisa bertambah besar ataupun bertambah kecil, potensi ini masih bersifat sembarang dan belum mempunyai arah yaitu bisa potensi menjadi baik atau potensi menjadi buruk, misalnya siang potensi untuk menjadi malam dan malam menjadi potensi untuk siang. Potensi dalam perjalanan manusia itu ada dua yaitu potensi takdir dan potensi ikhtiar/potensi fatal dan potensi fital. Potensi ikhtiar adalah berubah, ikhiar berubah tidak hanya dikarenakan oleh manusia bisa juga karena sistem alam semesta sedangkan potensi takdir adalah sunatullah kodrat dari allah. Misalnya: batu mempunyai potensi dua tercipta ditakdirkan dan berubah (karena cuaca, tendangan binatang, tangan manusia). Manusia memiliki potensi dipilih dan memilih, dipilih misalnya seseorang yang lahir disuatu tempat tertentu karena memang sudah ditakdirkan untuk lahir di tempat tersebut, kemudian manusia juga memiliki potensi untuk memilih misalnya seperti memilih suami, memilih sahabat, memilih rumah, memilih pandangan, memilih dengar, memilih niat, dan memilih lainnya lagi karena memilih merupakan ikhtiar dari seseorang sebab hidup itu adalah pilihan dan tujuan dari hidup seseorang adalah memilih. Setinggi-tingginya tujuan hanya satu  tujuan dalam hidup yaitu adalah menjadi saksi.
Menurut istilah dalam filsafat idola itu merupakan potensi gelap segala sesuatu berpotensi hitam atau potensi buruk, idola memberikan pengaruh buruk atau sesuatu yang dapat menggoda dirimu. Sesuatu yang berada di depan kita adalah fenomena, sesuatu yang di belakang kita adalah epoche yang dimaksud dengan epoche yaitu menyensuaikan diri atau memfokuskan diri pada apa yang ada dihadapan kita, sedangkan segala sesuatu selain dari yang ada di hadapan atau yang bukan menjadi fokus saat ini dimasukkan ke dalam epoche atau dapat kita katakan secara sederhana epoche itu adalah dilupakan sementara/ dikesampingkan dulu. Sesuatu di atas kita adalah transenden dan yang berada di bawah kita itu bayang-bayang. Hidup kita itu adalah bayang-bayang dari ajaran, agama, kitab suci Al-qur’an, hadis, ajaran orang tua, nasehat orang tua, kita ini adalah bayang-bayang. Sesuatu yang dianggap indah dalam filsafat yaitu etika dan estetika. Dalam konteks filsafat hal yang dibenci itu adalah mitos, mitos itu adalah posisi ditengah-tengah yaitu nyaman, nyaman adalah mitos. Sebenar-benarnya nyaman adalah perjalanan ketidaknyamanan itulah. Mitos itu berarti diam, berhenti berpikir, dan merasa telah jelas. Prof. Marsigit menegaskan bahwa dalam filsafat semua kejelasan itu adalah mitos berbeda halnya dalam matematika, belajar matematika adalah supaya jelas, namun tidak dengan filsafat sebab bila dalam filsafat jelas, berarti engkau berhenti berpikir karena merasa tidak ada yang tidak jelas adalah berbahaya bagi filsafat. Setiap kata dalam filsafat adalah dunia, contoh: batu dunianya batu, jilbab dunianya jilbab, Andi adalah dunianya Andi, Marsigit adalah dunianya Marsigit dan infinite regress.
Dalam konteks filsafat saat ini yang kita lakukan adalah mengada, sebenar-benarnya mengada adalah perubahan. Sebenar-benar hidup adalah mengada, hasil dari mengada adalah pengada.  Misalnya sebelum dilakukan tes, peserta tes itu adalah mengada namun bila sudah dalam bentuk nilai atau setelah jadi dalam bentuk hasil itu namanya pengada (karya). Sebenar- benarnya belajar adalah mengada dari yang ada sampai yang mungkin ada, yang ada itu ada sesuatu yang kita mengerti dan ada di dalam pikiran dan yang mungkin ada itu ada sesuatu yang tidak kita mengerti. Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, yang ada yaitu segala sesuatu yang ada dipikiranmu dan sesuatu yang mungkin ada itu adalah segala sesuatu yang belum kamu ketahui. Dalam berfilsafat sebenar-benarnya dirimu adalah bahasamu, sebenar-benar dirimu adalah kata-katamu, maka kita perlu berhati-hati dalam berbicara maupun berkata-kata. Bacaan dalam berfilsafat itu adalah adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada,  Laboraturium filsafat itu adalah semua ciptaan tuhan, yang ada dan yang mungkin ada bagi masing-masing kita berbeda-beda itulah sebabnya kita lebih banyak mencari tahu dan perbanyak bacaan.
Semua ilmu kalah dengan maksud, misalnya ketika seseorang ingin menjadi seorang  dokter gigi maka semua ilmu yang tidak ada hubungannya dokter gigi itu kalah. Prof. Marsigit mengatakan bahwa setinggi-tinggi ilmu kalah dengan maksud, jadi beliau berpesan untuk berhati-hatilah  dan mengendalikan diri dari keinginan-keinginan apalagi keingian yang tidak baik sebab bisa mengalahkan segala ilmu. Sebenar-benarnya hidup adalah kalau kita berada di perbatasan. Di dalam perbatasan itulah terdapat ilmu, batas antara jelas dan tidak jelas, batas antara nyaman dan tidak nyaman disini mengandung maksud, bahwa pikiran sah-sah saja perbedaan, justru ilmu muncul karena adanya perbedaan jangan sampai perbedaan menjadi batas. Justru karena ada perbedaan itulah kita mempunyai ilmu.
Sebelum mengakhiri perkuliahan, Prof. Marsigit menjawab satu pertanyaan dari salah satu rekan mahasiswa yang menanyakan tentang definisi bahagia menurut beliau, kemudian beliau menjawab bahwa bahagia itu adalah bila sesuai dengan ruang dan waktu, cocok dengan ruang dan waktunya dalam artian sunatullah sesuai dengan kodratnya sesuai dengan hukumnya. kebahagiaan bagi beliau adalah apabila menjalani hidup ini dengan sebagaimana mestinya saat belajar ya belajar, saat beribadah maka beribadah, waktunya sholat maka sholat, saatnya kuliah kuliah itulah namnya istiqomah. Jika memang sedang ada masalah maka harus bersabar dan bertawakal. Sungguh merupakan jawaban yang bijak dan bermakna sekali serta memberikan pencerahan bagi mahasiswa atau siapapun yang menginginkan untuk meraih kebahagian hidup ala Prof. Marsigit.

Komentar