Langsung ke konten utama

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Pertemuan Pertama 05/09/2017 oleh Andi Gusmaulia Eka Putri

Pertemuan pertama perkuliahan filsafat diawali dengan perkenalan dan sedikit pengenalan mengenai filsafat secara umum. Prof. Marsigit memberikan pengantar perkuliahan dengan mengenalkan dan menjelaskan namanya dari segi kontemporer, klasik maupun dari segi tradisional, riwayat pendidikan, karier yang sudah dijalani sampai saat ini dan beberapa cerita tentang kehidupan dan pengalaman pribadi. Berdasarkan penjelasan  Prof. Marsigit, saya memperoleh beberapa pemahaman dan pelajaran bahwa semua ilmu itu tersamar, tertutup bayang-bayang tinggal kita mampu menggalinya atau tidak. Mencari ataupun menjelajahi ilmu itu harus ada  semangat/power dari dalam diri sendiri sebab mencari ilmu itu tidak terbatas oleh usia tergantung dari ikhtiar seseorang.
Prof. Marsigit menjelaskan bahwa filsafat itu adalah bagaimana belajar supaya bingung, kalau belum bingung itu namanya belum bisa berfilsafat. Syarat bisa berfilsafat itu harus bingung dulu. Bingung di dalam pikiran itu, tandanya mau mencari ilmu atau sedang membangun ilmu, tapi janganlah sekali-kali bingung di dalam hati sebab seseorang baru akan dikatakan profesional bila sudah bisa memilah-milah kebingungan yang dirasakan, tapi bila seseorang itu bingung di kepala dan bingung di hati maka inilah yang disebut dengan tidak profesional (jiwanya belum matang), Prof. Marsigit menegaskan bahwa bingung ketika atau dalam belajar itu tidak apa-apa asal jangan diikut bingungkan hatimu itu.
Setelah sesi pengenalan singkat namun terasa sangat bermakna dan memiliki kesan tersendiri, Prof. Marsigit menyudahi sesi perkenalan dengan membuka perkuliahan dengan mengajak seluruh mahasiswa membaca Al-Fatihah, beliau berpesan bagi kami yang selama ini memiliki keraguan belajar filsafat, bagi yang selama ini memiliki prasangka buruk tentang belajar filsafat yaitu dengan pandangan setelah belajar filsafat “masuk lurus, keluar miring”, untuk itulah kita mengawali segala sesuatunya dengan berdoa terlebih dahulu sebelum belajar.
Dalam filsafat ini kita mengalirkan gagasan-gagasan/ ide-ide. Segala sesuatu pekerjaan, segala sesuatu kehidupan punya yang namanya landasan, punya yang namanya arah. Misalnya seperti gedung perkuliahan , gedung ini punya atap, gedung ini juga punya fondamen/landasan. Landasan adalah paradigma, paradigmanya ialah membangun, membangun “whatever” atau apapun tentunya yang dibangun adalah yang baik-baik dan bukan yang jelek-jelek, membangun dalam artian yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya karena sifat daripada konsep membangun dalam filsafat itu adalah intensive luas dan dalam. Diibaratkan itu membangun mulai dari langit sampai ke bumi, dasar bumi, dasar samudera, dst.
Kalau dari struktur dunia lain yaitu isomorfis yaitu dari spiritual turun kepengetahuan manusia turun kepada ilmu kemudian bidang ilmu cadang turun lagi kepada formalitas aturannya peraturan perundang-undangan turun kepada pergaulan manusia (interaksi antar manusia) turun kepada dunia (dunia binatang, dunia tumbuh-tumbuhan) turun kepada bebatuan/benda-benda dalam konteks “membangun”.  Kita bisa saja membangun langit atau membangun bumi, begitu juga tumbuhan misalnya ada tumbuh-tumbuhan yang sedang membangun, tumbuh-tumbuhan padi yang akan sedang berbunga dan nanti akan berbuah yang berarti sedang membangun padi, binatang yang sedang membangun cinta, manusia atau orang yang membangun rumah tangga, membangun persahabatan, membangun spiritual, membangun mesjid, membangun tembok, membangun gedung. Kalau berfikir filsafat itu diturunkan sampai hal yang paling kompleks, misalnya: dalam konteks batu yang membangun, batu yang membangun itu seperti apa.
Karena konsep berfilsafat adalah membangun, Prof. Marsigit menyampaikan bahwa dalam proses belajar berfilsafat maka silahkan bangunlah filsafat dirimu masing-masing  dengan jadilah dirimu sendiri. Prof. Marsigit berpesan untuk selalu mengingat bahwa sebingung-bingung pikiran itu pertanda ilmu, tapi jangan sekali-sekali bingung di dalam hati karena bingung di dalam hati, sebab nauzubillahi minzhalik itu godaan syaiton (jaga agar hati tetap dingin walaupun pikiran itu dalam keadaan kacau).  Perhatikanlah pikiran para filsuf, runutlah pikiran para filsuf dari awal hingga akhir zaman. Bingung pikiran tetapkanlah hati  sebagai komandan. Maka, selama mengikuti pelajaran filsafat meski dalam pikiran kacau namun dalam hati tetap istighfar, berdoa, memohon ampun dan memohon petunjuk. Doa yang paling tinggi adalah memangil nama Allah, zikir. Memanggil nama Allah meski hanya satu kali namun dengan penuh keikhlasan maka akan memperoleh pahala. Ikhlas ada dua macam yaitu, ikhlas di dalam hati dan ikhlas di dalam pikiran. Ada ikhlas hati ada ikhlas pikir hasil akhirnya adalah profesional. Ikhlas pikir itu paham atau mengerti. Ikhlas di dalam hati itu senang, tawakkal, istiqomah, tumagninah inilah merupakan ciri-ciri orang ikhlas sesuai dengan bidang spiritual dalam agama. Dimensi berfikir setiap orang semakin meningkat setiap harinya bila dilihat dari segi waktu namun dari segi ruangnya bisa saja tetap. Dalam filsafat semua itu bermakna, dan tidaklah sembarang.
Manfaat dari belajar befilasafat itu adalah untuk meningkatkan dimensi berpikir, dari yang sebelumnya tidak mengerti menjadi mengerti. Filsafat menaikkan dimensi hidup dan itu akan terus meningkat setiap saatnya, ditandai dengan mulai mengetahui ataupun memahami segala sesuatu yang belum pernah atau tak penah terpikirkan sebelumnya. Paradigma dalam perkuliahan filsafat ialah paradigma yang membangun/construct karena paradigma membangun itu mengkonstruk, jadi dalam perkuliahan filsafat ini tidak ada istilahnya Prof. Marsigit memberi informasi sehingga kami mahasiswa diharapkan untuk tidak memiliki ekspektasi untuk hanya menerima saja dari beliau. Prof. Marsigit menyampaikan bahwa beliau sebagai guru dan sebagai dosen hanya memfasilitasi. Caranya yaitu belajar melalui  berkunjung dan membaca di blog beliau di alamat powermathematics.blogspot.com dan alamat lain yaitu uny.academia.edu/MarsigitHrd untuk mengakses  RPS dan silabus perkuliahan serta beberapa info lainnya.
Ketika saudari Trisylia menanyakan tentang bagaimana cara menyelaraskan idealitas dengan realitas yang ada, Prof. Marsigit menjawab jalanilah yang kamu pikirkan, pikirkan yang kamu kerjakan, keduanya dikemas dengan doakan.  Begitu pula dalam menjalani perkuliahan,  jalani dan kerjakan tugas-tugas dan kewajibanmu, pikirkan yang sudah kamu kerjakan kemudian doakan keduanya. Jawaban yang diberikan oleh Prof. Marsigit begitu mengena dan berkesan sehingga menjadi pelajaran sebagai evaluasi diri.
Kuliah filsafat mengajarkan kita untuk menjadi orang yang tahu diri, tidak sembarang mendefinisikan, dan lebih berhati-hati menggunakan ilmu. Dalam filsafat orang yang merasa tidak bisa itu derajatnya paling tinggi. Prof. Marsigit menyampaikan bahwa target standar kompetensi belajar filsafat ialah menjadikan kamu yang bisa menjadi tidak bisa, dengan belajar filsafat mengajarkan kita untuk tidak sombong dan merasa benar sehingga menjadikan renungan bagi kita bahwa ternyata sebenar-benarnya diriku tidaklah mengetahui apapun (socrates). Sebenar-benar filsafat adalah baca, baca dan membaca. Prof. Marsigit menegaskan bahwa filsafat itu adalah penjelasanmu, siapapun bisa mendefinisikan filsafat yang penting adalah penjelasannya maka penjelasanmu itulah sebenar-benarnya filsafat. Filsafat adalah olah pikir, hidup tidak hanya olah pikir tetapi juga olah hati, spiritual itu olah hati dan olah pikir. Keduanya harus diseimbangkan, tidak boleh hanya olah pikir saja namun harus ada olah hati juga.
Referensi dalam perkuliahan filsafat adalah semua ciptaan tuhan, jadi kita bisa mempelajari filsafat dari apapun yang ada dalam kehidupan sehari-hari kita. Perlu kita ketahui bahwa lawan dari belajar berfilsafat/ penyakinya orang belajar berfilsafat ialah tidak lengkap, tidak paham, parsial, tidak cocok ruang dan waktunya. Menggunakan filsafat secara bijak sesuaikanlah dengan dimensinya.

Komentar