Pertemuan
pertama perkuliahan filsafat diawali dengan perkenalan dan sedikit pengenalan
mengenai filsafat secara umum. Prof. Marsigit memberikan pengantar perkuliahan dengan
mengenalkan dan menjelaskan namanya dari segi kontemporer, klasik maupun dari
segi tradisional, riwayat pendidikan, karier yang sudah dijalani sampai saat
ini dan beberapa cerita tentang kehidupan dan pengalaman pribadi. Berdasarkan
penjelasan Prof. Marsigit, saya
memperoleh beberapa pemahaman dan pelajaran bahwa semua ilmu itu tersamar,
tertutup bayang-bayang tinggal kita mampu menggalinya atau tidak. Mencari
ataupun menjelajahi ilmu itu harus ada
semangat/power dari dalam diri sendiri sebab mencari ilmu itu tidak
terbatas oleh usia tergantung dari ikhtiar seseorang.
Prof. Marsigit menjelaskan bahwa filsafat
itu adalah bagaimana belajar supaya bingung, kalau belum bingung itu namanya
belum bisa berfilsafat. Syarat bisa berfilsafat itu harus bingung dulu. Bingung
di dalam pikiran itu, tandanya mau mencari ilmu atau sedang membangun ilmu,
tapi janganlah sekali-kali bingung di dalam hati sebab seseorang baru akan dikatakan
profesional bila sudah bisa memilah-milah kebingungan yang dirasakan, tapi bila
seseorang itu bingung di kepala dan bingung di hati maka inilah yang disebut
dengan tidak profesional (jiwanya belum matang), Prof. Marsigit menegaskan
bahwa bingung ketika atau dalam belajar itu tidak apa-apa asal jangan diikut
bingungkan hatimu itu.
Setelah sesi pengenalan singkat namun
terasa sangat bermakna dan memiliki kesan tersendiri, Prof. Marsigit menyudahi
sesi perkenalan dengan membuka perkuliahan dengan mengajak seluruh mahasiswa
membaca Al-Fatihah, beliau berpesan bagi kami yang selama ini memiliki keraguan
belajar filsafat, bagi yang selama ini memiliki prasangka buruk tentang belajar
filsafat yaitu dengan pandangan setelah belajar filsafat “masuk lurus, keluar
miring”, untuk itulah kita mengawali segala sesuatunya dengan berdoa terlebih
dahulu sebelum belajar.
Dalam filsafat ini kita mengalirkan
gagasan-gagasan/ ide-ide. Segala sesuatu pekerjaan, segala sesuatu kehidupan
punya yang namanya landasan, punya yang namanya arah. Misalnya seperti gedung
perkuliahan , gedung ini punya atap, gedung ini juga punya fondamen/landasan.
Landasan adalah paradigma, paradigmanya ialah membangun, membangun “whatever”
atau apapun tentunya yang dibangun adalah yang baik-baik dan bukan yang
jelek-jelek, membangun dalam artian yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya
karena sifat daripada konsep membangun dalam filsafat itu adalah intensive luas
dan dalam. Diibaratkan itu membangun mulai dari langit sampai ke bumi, dasar
bumi, dasar samudera, dst.
Kalau dari struktur dunia lain yaitu
isomorfis yaitu dari spiritual turun kepengetahuan manusia turun kepada ilmu
kemudian bidang ilmu cadang turun lagi kepada formalitas aturannya peraturan
perundang-undangan turun kepada pergaulan manusia (interaksi antar manusia)
turun kepada dunia (dunia binatang, dunia tumbuh-tumbuhan) turun kepada
bebatuan/benda-benda dalam konteks “membangun”.
Kita bisa saja membangun langit atau membangun bumi, begitu juga
tumbuhan misalnya ada tumbuh-tumbuhan yang sedang membangun, tumbuh-tumbuhan
padi yang akan sedang berbunga dan nanti akan berbuah yang berarti sedang membangun
padi, binatang yang sedang membangun cinta, manusia atau orang yang membangun
rumah tangga, membangun persahabatan, membangun spiritual, membangun mesjid,
membangun tembok, membangun gedung. Kalau berfikir filsafat itu diturunkan
sampai hal yang paling kompleks, misalnya: dalam konteks batu yang membangun,
batu yang membangun itu seperti apa.
Karena konsep berfilsafat adalah membangun,
Prof. Marsigit menyampaikan bahwa dalam proses belajar berfilsafat maka
silahkan bangunlah filsafat dirimu masing-masing dengan jadilah dirimu sendiri. Prof. Marsigit
berpesan untuk selalu mengingat bahwa sebingung-bingung pikiran itu pertanda
ilmu, tapi jangan sekali-sekali bingung di dalam hati karena bingung di dalam
hati, sebab nauzubillahi minzhalik itu godaan syaiton (jaga agar hati tetap
dingin walaupun pikiran itu dalam keadaan kacau). Perhatikanlah pikiran para filsuf, runutlah
pikiran para filsuf dari awal hingga akhir zaman. Bingung pikiran tetapkanlah
hati sebagai komandan. Maka, selama
mengikuti pelajaran filsafat meski dalam pikiran kacau namun dalam hati tetap
istighfar, berdoa, memohon ampun dan memohon petunjuk. Doa yang paling tinggi
adalah memangil nama Allah, zikir. Memanggil nama Allah meski hanya satu kali
namun dengan penuh keikhlasan maka akan memperoleh pahala. Ikhlas ada dua macam
yaitu, ikhlas di dalam hati dan ikhlas di dalam pikiran. Ada ikhlas hati ada ikhlas
pikir hasil akhirnya adalah profesional. Ikhlas pikir itu paham atau mengerti.
Ikhlas di dalam hati itu senang, tawakkal, istiqomah, tumagninah inilah
merupakan ciri-ciri orang ikhlas sesuai dengan bidang spiritual dalam agama. Dimensi
berfikir setiap orang semakin meningkat setiap harinya bila dilihat dari segi
waktu namun dari segi ruangnya bisa saja tetap. Dalam filsafat semua itu
bermakna, dan tidaklah sembarang.
Manfaat dari belajar befilasafat itu
adalah untuk meningkatkan dimensi berpikir, dari yang sebelumnya tidak mengerti
menjadi mengerti. Filsafat menaikkan dimensi hidup dan itu akan terus meningkat
setiap saatnya, ditandai dengan mulai mengetahui ataupun memahami segala
sesuatu yang belum pernah atau tak penah terpikirkan sebelumnya. Paradigma
dalam perkuliahan filsafat ialah paradigma yang membangun/construct karena
paradigma membangun itu mengkonstruk, jadi dalam perkuliahan filsafat ini tidak
ada istilahnya Prof. Marsigit memberi informasi sehingga kami mahasiswa
diharapkan untuk tidak memiliki ekspektasi untuk hanya menerima saja dari
beliau. Prof. Marsigit menyampaikan bahwa beliau sebagai guru dan sebagai dosen
hanya memfasilitasi. Caranya yaitu belajar melalui berkunjung dan membaca di blog beliau di
alamat powermathematics.blogspot.com dan alamat lain yaitu
uny.academia.edu/MarsigitHrd untuk mengakses
RPS dan silabus perkuliahan serta beberapa info lainnya.
Ketika saudari Trisylia menanyakan
tentang bagaimana cara menyelaraskan idealitas dengan realitas yang ada, Prof. Marsigit
menjawab jalanilah yang kamu pikirkan, pikirkan yang kamu kerjakan, keduanya
dikemas dengan doakan. Begitu pula dalam
menjalani perkuliahan, jalani dan
kerjakan tugas-tugas dan kewajibanmu, pikirkan yang sudah kamu kerjakan
kemudian doakan keduanya. Jawaban yang diberikan oleh Prof. Marsigit begitu
mengena dan berkesan sehingga menjadi pelajaran sebagai evaluasi diri.
Kuliah filsafat mengajarkan kita untuk
menjadi orang yang tahu diri, tidak sembarang mendefinisikan, dan lebih
berhati-hati menggunakan ilmu. Dalam filsafat orang yang merasa tidak bisa itu
derajatnya paling tinggi. Prof. Marsigit menyampaikan bahwa target standar
kompetensi belajar filsafat ialah menjadikan kamu yang bisa menjadi tidak bisa,
dengan belajar filsafat mengajarkan kita untuk tidak sombong dan merasa benar
sehingga menjadikan renungan bagi kita bahwa ternyata sebenar-benarnya diriku
tidaklah mengetahui apapun (socrates). Sebenar-benar filsafat adalah baca, baca
dan membaca. Prof. Marsigit menegaskan bahwa filsafat itu adalah penjelasanmu,
siapapun bisa mendefinisikan filsafat yang penting adalah penjelasannya maka
penjelasanmu itulah sebenar-benarnya filsafat. Filsafat adalah olah pikir,
hidup tidak hanya olah pikir tetapi juga olah hati, spiritual itu olah hati dan
olah pikir. Keduanya harus diseimbangkan, tidak boleh hanya olah pikir saja
namun harus ada olah hati juga.
Referensi dalam
perkuliahan filsafat adalah semua ciptaan tuhan, jadi kita bisa mempelajari
filsafat dari apapun yang ada dalam kehidupan sehari-hari kita. Perlu kita
ketahui bahwa lawan dari belajar berfilsafat/ penyakinya orang belajar berfilsafat
ialah tidak lengkap, tidak paham, parsial, tidak cocok ruang dan waktunya.
Menggunakan filsafat secara bijak sesuaikanlah dengan dimensinya.
Komentar
Posting Komentar